Subnetting

Subnetting merupakan Teknik pemecahan pada suatu jaringan besar menjadi jaringan yang lebih kecil dengan cara membagi bit pada Host ID yang ada pada subnet mask untuk dijadikan Network ID lainnya. Subnetting dapat menambahkan beberapa jaringan akan tetapi dapat mengurangi jumlah maksimum pada host yang ada dalam setiap jaringan.

 

Sebagai contoh jika menggunakan jaringan 10.10.10.0 /24 dan mempunyai Host Range mencapai 255 dengan kelompok jaringan yang sama, maka dengan subnetting dapat dipecah menjadi:

Jaringan A =  10.10.10.0 /27

Jaringan A mempunyai Network ID 10.10.10.0, Host Range 10.10.10.1 – 10.10.10.30 dan 10.10.10.31 sebagai Broadcast ID pada jaringan A.

Jaringan B = 10.10.10.32 /27

Jaringan B mempunyai Network ID 10.10.10.32 Host Range 10.10.10.33 – 10.10.10.47 dan Network ID 10.10.10.48.

 

Menggunakan subnetting dengan metode CIDR.

Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.0 /24
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30
255.255.255.252 /31
255.255.255.255 /32

 

Contoh : IP Address dengan Network Address 10.10.10.0 /25 yang mempunyai nilai biner  11111111.11111111.11111111.10000000.  Dengan /25 yang berarti mempunyai subnet 255.255.255.128. Dengan Subnetting pastinya akan melihat jumlah subnet, jumlah host, blok pada subnet dan broadcast ID. Maka perhitungan atau penentuan subnetting pada network 10.10.10.0 /25 adalah:

  1. Jumlah Subnet = 2x

Jumlah subnet diambil dari 25 octet binary (biner yang bernilai 1) awal yang nantinya tidak akan berubah yang dimulai setelah dari octet binery 24. Dengan begitu banyaknya octet binary yang tidak berubah pada octet setelah octet 24 adalah berjumlah 1 (10000000). Dimana octet binary berjumlah 1 yang dijadikan nila variabeli x untuk menetukan jumlah subnett. Jumlah subnet pada /25 adalah 21 = 2 Subnet.

 

  1. Jumlah Host pada Subnet = 2y – 2

Jumlah host pada subnet diambil dari 7 octet binary terakhir (biner yang bernilai 0) yang nantinya jika ada penambahan network dapat berubah untuk menentukan network dan jumlah host. Dengan begitu 7 octet terakhir pada biner yang bernilai 0 untuk menentukan jumlah host pada subnet. Dimana octet binary yang berjumlah 7 di jadikan sebagai nilai dari variable y untuk menentukan jumlah host. Jumlah host pada subnet /25 adalah 27 – 2 = 128 – 2 = 126 Host.

Pengurangan 2 pada Host subnet untuk memberikan nilai kepada Network ID dan Broadcast ID.

 

  1. Jumlah Blok Subnet = 256 – dengan octet terakhir yang bernilai binary 0

Jumlah dalam Blok Subnet ditentukan dari banyaknya jumlah octet terakhir yang bernilai binary 0. Pada /25 jumlah octet terakhir yang bernilai binary 0 sebanyak 7. Jumlah octet terakhir yang bernilai binary 0 sebanyak 7 octet maka bisa ditentukan 27=128. Dengan begitu jumlah Blok subnet pada /25 adalah 256 – 128 = 128 blok subnet. Blok subnet ini nantinya digunakan untuk membatasi jumlah host pada setiap blok.

 

Dengan begitu Network Address 10.10.10.0 /25 mempunyai table subnet sebagai berikut:

 

Subnet / Network ID Host Range Broadcast ID
10.10.10.0 10.10.10.1 – 10.10.10.126 10.10.10.127
10.10.10.128 10.10.10.129 – 10.10.10.254 10.10.10.255

 

by : Wahyu

OSI LAYER

Osi Layer merupakan sarana untuk menggambarkan bagaimana data ditransmisikan melalui jaringan dan menentukan fungsi jaringan pada setiap lapisan. Osi Layer juga membahas tentang Hardware, Software dan transmisi data untuk mengatasi jaringan yang tidak kompatibel dan jaringan yang tidak dapat berkomunikasi satu sama lain. Osil Layer juga bisa disebut sebagai struktur terbaik untuk mengetahui tentang pengiriman dan penerimaan data pada jaringan. Osi Layer di pisahkan menjadi tujuh susunan atau kategori yang biasa di sebut Layer.

 

  1. Layer Physical

Pada Layer Physical, terjadi perubahan (konversi) dari signal analog menjadi digital untuk dapat diproses oleh layer-layer berikutnya, atau sebaliknya setelah dilakukan proses oleh layer-layer lainnya untuk kemudian dilakukan pengiriman (transmit) data melalui media-media transmisi.

Media-media transmisi adalah media yang digunakan untuk komunikasi data serperti copper-wire (UTP tembaga), fiber-optic, wireless radio, sattelite dan lain sebagainya.

 

  1. Layer Data Link

Data Link memecah keseluruhan bit data menjadi bagian-bagian kecil (framing) yaitu sebesar 1 Byte data, untuk kemudian diteruskan ke physhical layer melalui media-media transmisinya.

Arah sebaliknya, adalah menggabungkan Byte data yang diterima dari physhical layer menjadi 1 data utuh yang kemudian diteruskan ke layer-layer diatasnya.

Pada layer ini terdapat fungsi error correction dan flow control, jika terdapat kegagalan transmisi pada salah satu paket data, maka hanya paket data tersebutlah yang akan di-koreksi, dan bukan keseluruhan paket data, sehingga memungkinkan kontinuitas transmisi data. Pelaku yang memungkinkan dilakukannya fitur ini adalah 2 (dua) sub-layer datalink yaitu LLC (Logical Link Control) & MAC (Media Access Control).

Beberapa aplikasi Layer datalink adalah; ethernet, HDLC, dan Power Line.

 

  1. Layer Network

Pada bagian ini dilakukan pem-paket-an data, yaitu pemecahan data utuh menjadi bagian-bagian kecil dengan besaran tertentu.

Paket yang sudah dipecah kemudian dilakukan peng-alamat-an paket data, baik memberi alamat asal maupun tujuan transmisi data, sebagai identitas dan atau label transmisi data.

Aplikasi layer network adalah IP (Internet Protocol) addressing, routing protocol, dan group management seperti broadcast, multicast dan anycast.

 

  1. Layer Transport

Transport layer mengendalikan kualitas transmisi data, dengan melakukan pelacakan (tracking),  inisiasi ulang jika terjadi kegagalan (resubmit), dan memberikan kepastian keberhasilan transmisi (delivery acknowledgements).

Selain itu, pembungkusan / enkapsulasi terjadi pada bagian ini. Suatu paket data akan “dibungkus” untuk mengelompokkan berdasarkan jenis data, dan (pada beberapa jenis) untuk lebih menjamin keamanan data, dimana hanya penerima (dengan hak akses) tertentu saja yang dapat menerima paket yang dikirimkan padanya.

Transmission Control Protocol (TCP) dan User Datagram Protocol (UDP) pada dimensi Internet Protocol (IP) adalah contoh aplikasi layer transport. RDP, SSH, SMTP juga bagian dari aplikasi layer transport. Selain itu enkapsulasi transmisi seperti IPSec, L2TP, PPP, dan beberapa tunneling protocol lain juga adalah bagian dari aplikasi layer transport.

Transport Layer Security (TLS) adalah protocol keamanan yang pada umumnya digunakan pada layer transport.

 

  1. Layer Session

Session layer dapat juga dikatakan sebagai “checkpoint”. Manakala terjadi transmisi data, checkpoint berfungsi untuk memulai, menghentikan sementara, melanjutkan, bahkan membatalkan atau mengakhiri transmisi tersebut.

Aplikasi session layer adalah duplex, simplex, dan RPC yang banyak diimplementasikan di level Operating System.

 

  1. Layer Presentation

Disebut juga “Syntax Layer” yang berfungsi sebagai penterjemah antara bahasa yang dikenali oleh aplikasi, menjadi bahasa yang dikenali oleh sistem transmisi (bahasa mesin/network system/binary).

Beberapa sistem konversi yang digunakan adalah EBCDIC dan ASCII. Sistem yang lebih kekinian menggunakan XML dan sejenisnya.

 

  1. Layer Application

Layer yang bersentuhan langsung dengan pengguna. Terjadi interaksi langsung dengan aplikasi pengguna yang berurusan dengan komponen-komponen transmisi data. Komponen dimaksud secara umum adalah ; menetapkan lawan transmisi, menetapkan sumber (resources) yang akan di-transmisi, dan mengkompak-kan transmisi antara lawan.

Sebagai contah; sebuah website menggunakan lebih dari 1 (satu) buah aplikasi, 1 menggunakan HTTP untuk berkomunikasi dengan lawan transmisi, 2 menggunakan SQL untuk reservasi database pada lawan transmisi, 3 menggunakan FTP untuk melakukan transmisi less-security concerned file/data.

Beberapa aplikasi Layer Application adalah; HTTP, FTP, SQL, SIP.

by : Eko Fajar

Virtual Desktop Infrastructure

Apa itu VDI?

Virtual Desktop Infrastructure (VDI) mengarah kepada penggunaan virtual machine untuk menyediakan dan mengelola desktop virtual. Dalam VDI, sebuah hypervisor membagi virtual machine yang nantinya akan menjadi host dari virtual desktops, yang dimana nantinya user dapat mengakses secara remote dari perangkat mereka bisa itu dari laptop, smartphone atau tablet dimana pun mereka berada dan semua pemrosesan dilakukan pada host server. Pengguna terhubung ke instance desktop mereka melalui broker koneksi, yang merupakan gateway berbasis perangkat lunak yang bertindak sebagai perantara antara pengguna dan server.

Apa yang membedakan VDI dengan Desktop virtualisasi?

Desktop virtualisasi adalah istilah umum untuk teknologi apa pun yang memisahkan desktop environment dari hardware yang digunakan untuk mengaksesnya. VDI adalah salah satu jenis dari desktop virtualisasi, desktop virtualisasi bias juga diimplementasikan dengan cara salah satunya yaitu remote desktop services (RDS), yang dimana user/pengguna terhubung ke satu desktop yang sama

Apa manfaat VDI?

Meskipun kompleksitas VDI berarti bahwa itu bukan pilihan yang tepat untuk setiap organisasi, VDI menawarkan sejumlah manfaat bagi organisasi yang menggunakannya. Beberapa manfaat ini termasuk:

  • Akses Jarak Jauh : Pengguna VDI dapat terhubung ke desktop virtual mereka dari lokasi atau perangkat apa pun, sehingga memudahkan user untuk mengakses semua file dan aplikasi mereka dan bekerja dari mana saja
  • Penghematan Biaya : Karena pemrosesan dilakukan pada server, pengguna dapat mengakses desktop virtual dari perangkat yang lama tanpa harus membeli hardware baru dan mahal
  • Keamanan : Dengan VDI, data berada didalam server bukan di perangkat pribadi pengguna. Ini berfungsi untuk melindungi data dari kejadian seperti laptop pengguna dicuri atau computer yang digunakan bermasalah
  • Manajemen Terpusat : Format terpusat VDI ini memudahkan IT untuk memperbarui atau mengonfigurasi desktop virtual dalam suatu system.